Jangan Bersedih Atas Kegagalan, Karena Anda Masih Memiliki Banyak Kenikmatan

September 28, 2009

Renungkanlah: betapa banyaknya nikmat dan karunia Allah yang ada pada Anda. Lalu bersyukurlah kepada-Nya atas semua itu, dan sadarilah bahwa Anda benar-benar telah bergelimang dengan pemberian-Nya.

Allah berfirman,{ Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah,nisaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.}(QS,Ibrahim:34 )

{Dan, menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin } (QS,Lukman:20)

{Dan, apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allahlah datangnya.}(QS, An-Nahl:53)

Allah menegaskan betapa besarnya kenikmatan yang Dia berikan kepada hamba-hamba-Nya sebagaimana berikut,

{ Bukankah Kami telah memberikan kepadanya kedua mata, Lidah dan dua bibir, Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.} (QS,Al-Balad: 8-10)

Ada banyak kenikmatan yang terus mengalir : nikmat kehidupan, nikmat kesehatan, nikmat pendengarah, nikmat pengihatan, nikmat kedua tangan dan kedua kaki, nikmat air dan udara, dan nikmat makanan. Dan yang paling agung dari semua itu adalah nikmat hidayah rabbaniyah, yakni agama Islam. Apakah Anda ingin mata Anda dibeli dengan harga satu juta dolar ?Apakah Anda ingin menjual kedua telinga Anda dengan harga satu juta dolar ? Apakah anda ingin kedua kaki Anda dibeli degan harga satu juta dolar ? Apakah Anda ingin kedua tangan Anda dibeli dengan harga satu juta dolar ? Apakah Anda ingin menjual hati Anda dengan harga satu juta dolar ? Betapa banyak harta yang ada ditanganmu namun Anda tidak menunaikan rasa syukurmu.

Dikutip dari Buku La-Tahzan, Oleh Dr.Aidh al-Qarni, Penerjemah: Samson Rahman, diposting oleh : Ismunadji)

Bersedih: Tak Diajarkan Syariat dan Tak Bermanfaat

September 28, 2009

Bersedih itu sangat dilarang. Ini ditegaskan dalam firman Allah yang berbunyi,

{Dan, janganlah kamu bersikap lemah dan jangan (pula) bersedih hati.}

(QS. Ali ‘Imran: 139)

“Janganlah bersedih atas mereka” (kalimat ini disebut berulangkali dalam beberapa ayat al-Quran) dan, Janganlah kamu bersedih sesungguhnya Allah selalu bersama kita. (QS. At-Taubah: 40)

Adapun firman Allah yang menunjukkan bahwa kesedihan (bersedih) itu tak bermanfaat apapun adalah, ”Niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”(QS. Al-Baqarah: 38)

Bersedih itu hanya akan memadamkan kobaran api semangat, meredakan tekad, dan membekukan jiwa. Dan kesedihan itu ibarat penyakit demam yang membuat tubuh menjadi lemas tak berdaya. Mengapa demikian? Tak lain, karena kesedihan hanya memiliki daya yang menghentikan dan bukan menggerakkan. Dan itu artinya sama sekali tidak bermanfaat bagi hati. Bahkan, kesedihan merupakan satu hal yang paling disenangi setan. Maka dari itu, setan selalu berupaya agar seorang hamba bersedih untuk menghentikan setiap langkah dan niat baiknya. Ini telah diperingatkan Allah dalam firman-Nya, ”Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari setan supaya orang-orang mukmin berduka cita. (QS. Al-Mujadilah: 10)

Syahdan, Rasulullah s.a.w. melarang tiga orang yang sedang berada dalam satu majelis demikian, “(Janganlah dua orang di antaranya) saling melakukan pembicaraan rahasia tanpa disertai yang ketiga, sebab yang demikian itu akan membuatnya (yang ketiga) berduka cita.” Dan bagi seorang mukmin, kesedihan itu tidak pernah diajarkan. Soalnya, kesedihan merupakan penyakit yang berbahaya bagi jiwa. Karena itu pula, setiap muslim diperintahkan untuk mengusirnya jauh-jauh dan dilarang tunduk kepadanya.

Islam juga mengajarkan kepada setiap muslim agar senantiasa melawan dan menundukkannya dengan segala peralatan yang telah disyariatkan Allah s.w.t.

Bersedih itu tidak diajarkan dan tidak bermanfaat. Maka dari itu, Rasulullah s.a.w. senantiasa memohon perlindungan dari Allah agar dijauhkan dari kesedihan. Beliau selalu berdoa seperti ini, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa sedih dan duka cita.

Kesedihan adalah teman akrab kecemasan. Adapun perbedaannya antara keduanya adalah manakala suatu hal yang tidak disukai hati itu berkaitan dengan hal-hal yang belum terjadi, ia akan membuahkan kecemasan. Sedangkan bila berkaitan dengan persoalan masa lalu, maka ia akan membuahkan kesedihan. Dan persamaannya, keduanya sama-sama dapat melemahkan semangat dan kehendak hati untuk berbuat suatu kebaikan.

Kesedihan dapat membuat hidup menjadi keruh. Ia ibarat racun berbisa bagi jiwa yang dapat menyebabkannya lemah semangat, krisis gairah, dan galau dalam menghadapi hidup ini. Dan itu, akan berujung pada ketidakacuhan diri pada kebaikan, ketidakpedulian pada kebajikan, kehilangan semangat untuk meraih kebahagiaan, dan kemudian akan berakhir pada pesimisme dan kebinasaan diri yang tiada tara.

Meski demikian, pada tahap tertentu kesedihan memang tidak dapat dihindari dan seseorang terpaksa harus bersedih karena suatu kenyataan. Berkenaan dengan ini, disebutkan bahwa para ahli surga ketika memasuki surga akan berkata, ”Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami”. (QS. Fathir: 34)

Ini menandakan bahwa ketika di dunia mereka pernah bersedih sebagaimana mereka tentu saja pernah ditimpa musibah yang terjadi di luar ikhtiar mereka. Hanya, ketika kesedihan itu harus terjadi dan jiwa tidak lagi memiliki cara untuk menghindarnya, maka kesedihan itu justru akan mendatangkan pahala. Itu terjadi, karena kesedihan yang demikian merupakan bagian dari musibah atau cobaan. Maka dari itu, ketika seorang hamba ditimpa kesedihan hendaknya ia senantiasa melawannya dengan doa-doa dan sarana-sarana lain yang memungkinkan untuk mengusirnya.

”Dan, tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datangkepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraaan, lalu kamu berkata: “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu”, lalu mereka kembali sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan”. (QS. At-Taubah: 92)

Demikianlah, mereka tidaklah dipuji dikarenakan kesedihan mereka semata. Tetapi, lebih dikarenakan kesedihan mereka itu justru mengisyaratkan kuatnya keimanan mereka. Pasalnya, kesedihan mereka berpisah dengan Rasulullah adalah dikarenakan tidak mempunyai harta yang akan dibelanjakan dan kendaraan untuk membawa mereka pergi berperang. Ini merupakan peringatan bagi orang-orang munafik yang tidak merasa bersedih dan justru gembira manakala tidak mendapatkan kesempatan untuk turut berjihad bersama Rasulullah.

Kesedihan yang terpuji — yakni yang dipuji setelah terjadi — adalah kesedihan yang disebabkan oleh ketidakmampuan menjalankan suatu ketaatan atau dikarenakan tersungkur dalam jurang kemaksiatan. Dan kesedihan seorang hamba yang disebabkan oleh kesadaran bahwa kedekatan dan ketaatan dirinya kepada Allah sangat kurang. Maka, hal itu menandakan bahwa hatinya hidup dan terbuka untuk menerima hidayah dan cahaya-Nya.

Sementara itu, makna sabda Rasululllah dalam sebuah hadis shahih yang berbunyi, “Tidaklah seorang mukmin ditimpa sebuah kesedihan, kegundahan dan kerisauan, kecuali Allah pasti akan menghapus sebagian dosa-dosanya,” adalah menunjukkan bahwa kesedihan, kegundahan dan kerisauan itu merupakan musibah dari Allah yang apabila menimpa seorang hamba, maka hamba tersebut akan diampuni sebagian dosa-dosanya. Dengan begitu, hadits ini berarti tidak menunjukkan bahwa kesedihan, kegundahan dan kerisauan merupakan sebuah keadaan yang harus diminta dan dirasakan.

Bahkan, seorang hamba justru tidak dibenarkan meminta atau mengharap kesedihan dan mengira bahwa hal itu merupakan sebuah ibadah yang diperintahkan, diridhai atau disyariatkan Allah untuk hamba-Nya. Sebab, jika memang semua itu dibenarkan dan diperintahkan Allah, pastilah Rasulullah s.a.w. akan menjadi orang pertama yang akan mengisi seluruh waktu hidupnya dengan kesedihan-kesedihan dan akan menghabiskannya dengan kegundahan-kegundahan. Dan hal seperti itu jelas sangat tidak mungkin. Karena, sebagaimana kita ketahui, hati beliau selalu lapang dan wajahnya selalu dihiasi senyuman, hatinya selalu diliputi keridhaan, dan perjalanan hidupnya selalu dihiasi dengan kegembiraan.

Memang, dalam hadist Hindun ibn Abi Halah tentang sifat Nabi s.a.w. disebutkan bahwa, “Sesungguhnya, dia selalu bersedih”. Namun, hadist ini ternyata kurang dapat dipercaya, sebab dalam silsilah perawinya terdapat seorang perawi yang tidak dikenal. Selain itu, muatan hadits inipun jelas sangat bertentangan dengan realitas kehidupan Rasulullah s.a.w.

Bagaimana mungkin Rasulullah dikatakan selalu dirundung kesedihan? Bukankah Allah telah melindungi beliau dari kesedihan yang berkaitan dengan urusan keduniaan dan semua unsur-unsurnya, melarangnya agar tidak bersedih atas perilaku orang-orang kafir, dan mengampuni semua dosa-dosanya yang telah berlalu maupun yang belum terjadi? Nah, dari manakah sumber kesedihan itu? Bagaimana pula kesedihan itu dapat menembus pintu hati beliau? Dan dari jalan manakah kesedihan itu dapat menyusup ke dalam lubuk hatinya? Bukankah beliau s.a.w. senantiasa hatinya diliputi dzikir, jiwanya dialiri semangat istiqamah, pikirannya selalu dibanjiri hidayah rabbaniyah, dan hatinya senantiasa tenteram dengan janji Allah serta rela dengan semua ketentuan dan perbuatan-Nya? Bahkan, Rasulullah adalah orang yang terkenal ramah dan murah senyum sebagaimana dilukiskan oleh salah satu gelarnya sebagai “seseorang yang murah senyum”.

Siapa saja yang membaca, menghayati, dan mendalami sejarah perjalanan hidup beliau dengan seksama dan menyeluruh, maka ia akan mengetahui bahwa Rasulullah s.a.w. diturunkan ke dunia ini untuk menghancurkan kebatilan, mengusir kesuntukan, kegelisahan, kesedihan dan kecemasan, serta membebaskan jiwa dari tekanan keragu-raguan, kebingungan, kegundahan dan keguncangan. Bersamaan dengan itu, beliau juga diutus untuk menyelamatkan jiwa manusia dari segala bentuk hawa nafsu yang membinasakan. Maka begitulah, betapa banyaknya karunia Allah yang telah dianugerahkan kepada manusia.

Ada sebuah hadist menyebutkan bahwa, “Sesungguhnya Allah sangat mencintai hati yang senantiasa bersedih.” Namun, hadist ini ternyata tidak memiliki sanad (jalur periwayatan) dan perawi yang jelas, alias kurang dapat dipercaya. Singkatnya, hadist ini jelas kurang dapat dipertanggungjawabkan keshahihannya. Selain itu, hadist ini juga tidak dapat dikategorikan shahih karena sangat bertentangan dengan ajaran agama dan tuntunan syariat.

Dan kalau memang khabar (hadist) itu akan dianggap shahih, maka penjelasannya adalah demikian: kesedihan itu adalah salah satu musibah dari Allah yang ditimpakan kepada hamba-Nya untuk mengujinya. Artinya, jika hamba tersebut mampu menghadapinya dengan kesabaran, maka sesungguhnya Allah mencintai kesabaran orang tersebut dalam menghadapi cobaan itu.

Demikianlah, maka merupakan kesalahan besar bagi orang-orang yang memuja kesedihan, senantiasa berusaha menciptakan kesedihan, dan mencoba membenar-benarkan kesedihan mereka dengan dalih bahwa syariat telah menganjurkan dan memandangnya sebagai sesuatu yang baik. Sebab, pada kenyataannya dalil-dalil syariat melarang hal itu. Bahkan, syariat justru memerintahkan setiap manusia agar tidak bersedih dan selalu ceria.

Hadits lain menyebutkan, “Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan memancangkan sebuah gemuruh ratapan di dalam hatinya. Dan apabila Dia membenci seorang hamba, maka Dia akan menanamkan seruling nyanyian di dalam dadanya.”

Memang, hadist ini bersumber dan berasal dari Israiliyat (mitos Bangsa Israel). Ada pula yang mengatakan bahwa hadits ini termaktub dalam Taurat. Meski demikian, perkataan ini memiliki pesan makna yang benar.

Sebagaimana sering kita lihat, orang mukmin akan senantiasa bersedih atas dosa-dosa yang pernah dilakukannya, sementara orang yang durhaka akan senantiasa lalai, tidak pernah serius, dan berdendang kegirangan justru karena dosa-dosanya. Dan kalaupun ada kesedihan yang menimpa orang-orang salih, maka itu tak lebih dari sebuah penyesalan terhadap kebaikan-kebaikan yang terlewatkan, ketidakmampuan mereka mencapai derajat yang tinggi dan kesadaran bahwa mereka telah melakukan banyak kesalahan.

Demikianlah, alasan yang mendasari kesedihan ini berbeda dengan alasan yang mendasari kesedihan orang-orang yang durhaka. Mereka bersedih karena tidak mendapatkan keduniaan, keindahan, dan kenikmatan duniawi. Kesedihan, kegundahan dan kegelisahan mereka adalah karena keduniaan, untuk keduniaan dan di jalan menuju keduniaan.

Dalam sebuah Firman-Nya, Allah menceritakan keadaan seorang nabi dari Bani Israel demikian,

”Dan, kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (kepada anak-anaknya)”. (QS. Yusuf: 84)

Ayat ini mengabarkan tentang kesedihan Nabi Ya’qub saat harus kehilangan anak yang menjadi kekasihnya. Ini merupakan kabar bahwa cobaan tersebut sama beratnya dengan musibah atau ujian yang dirasakan oleh seseorang saat dipisahkan dengan buah hatinya. Betapapun, ayat di atas hanya sekadar memberi kabar dan lukisan tentang beratnya cobaan seorang nabi. Dan itu bukan berarti bahwa kesedihan seperti itu diperintahkan atau dianjurkan. Bahkan justru sebaliknya, kita diperintahkan untuk ber-isti’adzah (memohon perlindungan) kepada Allah dari segala kesedihan. Sebab, bagaimanapun kesedihan adalah laksana awan tebal, malam pekat yang panjang, dan aral panjang yang melintang di tangah jalan ke arah kemuliaan.

Selain Abu Utsman al-Jabari, semua ahli sufi sepakat bahwa bersedih karena perkara duniawi itu tidak terpuji. Menurut Abu Ustman, kesedihan itu —apapun bentuknya— adalah sebuah keutamaan dan tambahan kebajikan bagi seorang mukmin, yakni dengan syarat bila kesedihan itu bukan dikarenakan suatu kemaksiatan. la juga mengatakan, “Bahwa kalau kesedihan itu tidak diwajibkan secara khusus, maka ia diwajibkan sebagai

sarana mensucikan diri.”

Syahdan, ada pula yang berkata, “Tidak diragukan lagi bahwa kesedihan merupakan ujian dan cobaan dari Allah sebagaimana halnya penyakit, kegundahan, dan kegalauan. Namun jika dikatakan bahwa kesedihan adalah tingkatan yang harus dilalui seorang sufi adalah tidak benar.”

Atas dasar itu, sebaiknya Anda berusaha untuk senantiasa gembira dan berlapang dada. Jangan lupa memohon kepada Allah agar selalu diberi kehidupan yang baik dan diridhai, kejernihan hati, dan kelapangan pikiran. Itulah kenikmatan-kenikmatan di dunia. Betapapun, sebagian ulama mengatakan bahwa di dunia ini terdapat surga, dan barangsiapa tidak pernah memasuki surga dunia itu, maka ia tidak akan masuk surga akhirat.

Allah adalah satu-satunya Dzat yang pantas kita mohon agar melapangkan hati kita dengan cahaya iman, menunjukkan hati kepada jalan-Nya yang lurus, dan menyelamatkan kita dari kehidupan yang susah dan menyesakkan.

Dikutip dari Buku La-Tahzan, Oleh Dr.Aidh al-Qarni, Penerjemah: Samson Rahman, diposting oleh : Ismunadji)

Isilah Waktu Luang Anda Dengan Berbuat

September 18, 2009

Orang banyak menganggur dalam hidup ini, biasanya akan menjadi penyebar isu dan desas desus yang tidak berfaedah, karena itu pikiran mereka akan melayang tak tahu arah, Dan ” Mereka rela berada bersama-sama orang-orang yang tidak pergi berperang ( QS, At-Taubah : 87 )

Waktu yang paling berbahaya bagi akal adalah manakala pemiliknya mengganggur dan tak berbuat apa-apa, orang seperti itu, ibarat mobil yang berjalan dengan kecepatan tinggi tanpa sopir, akan mudah oleng kekanan dan kekiri.

Apabila pada suatu saat Anda mendapatkan diri Anda sendiri dalam keadaan menganggur tanpa kegiatan, bersiaplah untuk bersedih, gundah, dan cemas ! Sebab dalam keadaan kosong itulah pikiran Anda akan menerawang ke mana-mana mulai mengingat kegelapan masa lalu,menyesali kesialan masa kini, hingga mencemaskan kelamnya masa depan yang belum tentu Anda alami. Dan itu membuat akal pikiran Anda tak terkendali dan mudah lepas kontrol.Maka dari itu, saya nasehatkan kepada Anda dan diriku sendiri bahwa mengerjakan amalan-amalan yang bermanfaat adalah lebih baik daripada terlarut dalam kekosongan yang membinasakan. Singkatnya, membiarkan diri dalam kekosongan itu sama halnya dengan bunuh diri dan merusak tubuh dengan narkoba.

Waku kosong itu tak ubahnya dengan siksaan halus ala penjara Cina; meletakkan si narapidana dibawah pipa air yang hanya dapat meneteskan air satu tetes setiap menit selama bertahun-tahun. Dan dalam masa penantian yang panjang itulah, biasanya seorang napi akan menjadi stres dan gila. Berhenti dari kesibukan itu kelengahan, dan waktu kosong adalah pencuri yang culas. Adapun akal Anda, tak lain merupakan mangsa empuk yang siap dicabik-cabik oleh ganasnya terkaman kedua hal tadi; kelengahan dan si “pencuri”. Karena itu bangkitlah sekarang juga, Kerjakan shalat, baca buku, bertasbih, mengaji, menulis, merapikan menja kerja, merapikan kamar, atau berbuatlah sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain untuk mengusir kekosongan itu! Ini, karena aku ingin mengingatkan Anda agar tidak berhenti sejenakpun dari melakukan sesuatu yang bermanfaat. Bunuhlah setiap waktu kosong dengan ,pisau kesibukan ! Dengan cara itu, dokter-dokter dunia akan berani menjamin bahwa Anda telah mencapai 50% dari kebahagiaan.Lihatlah para petani, nelayan dan para kuli bangunan ! Mereka dengan ceria mendendangkan lagu-lagu seperti burung-burung di alam bebas. Mereka tidak seperti Anda yang tidur diatas ranjang empuk, tetapi selalu gelisah dan menyeka air mata kesedihan. ( Diposting oleh Ismunadji , dikutip dari Buku LaTahzan,Jangan Bersedih,Penulis Dr.Aidh al-Qarni,Penerjemah :Samson Rahman )

DUNIA MAYA YANG SAYA NIKMATI

September 18, 2009

Saya lahir pada tahun 1951 sedangkan bulan dan tanggalnya tidak saya temukan, karena data yang saya punya ada di ijazah SR ( SD ) saya dengan ijazah di SMEP dan SMEA saya tidak sama, akhirnya saya menggunakan data terakhir yang tercantum di ijazah SMEA saya, yakni tgl. 15 juli 1951.

Saya lahir dari keluarga tidak punya, Ayah seorang buruh tukang kayu dan ibu saya seorang buruh tani, kedua orang tua saya asli Bantul, sedang saya lahir dan besar di Yogyakarta, tepatnya di Kampung Mergangsan Lor.

Masa kanak-2, saya habiskan di SR(Sekolah Rakyat), Sekarang SD(Sekolah Dasar) di kampung Mergangsan, letaknya hanya 200 m dari rumah, semasa sekolah SD sempat tinggal kelas di kelas 5, jadi SD, saya jalani selama 7 tahun. Saya rtermasuk murid yang rajin, tapi tidak tahu kok saya bisa tinggal kelas, saya yang bodoh atau guru saya yang tidak bisa mengajar sehingga saya harus menjalani di kelas 5 SD selama 2 tahun, namun Alhamdulillah saya lulus dari kelas 6 SD termasuk juara 3(tiga) dari SD saya di Mergangsan.

Ternyata juara 3 dari SD Mergangsan, tidak bisa mengantarkan saya masuk SMP Negeri, akhirnya saya masuk di SMEP ( Sekolah Menengah Ekonomi Pertama ) di Yayasan PIRI Yogyakarta, lagi lagidi SMEP PIRI ini saya jalalani selama 3,5 tahun, tapi kali ini bukan karena saya bodoh, tetapi karena Pemerintah RI saat ini sedang kacau ( Tahun 1965, terjadi G30 S( Gerakan 30 September 1965 oleh PKI) jadi sekolah saya menjadi korbannya, tahun akhir ajaran diundur dari Juli menjadi Desember. Tapi akhirnya saya lulus juga pada Tahun 1967. Kalau tidak salah Pemerintah pada saat itu mengadakan pemotongan nilai uang dari Rp. 1.000.- menjadi Rp. 1,- karena inflasi hampir mencapai 1000%.

Tahun 1967 saya masuk SMEA Negeri II, saya masuk dengan modal pinjaman orang tua saya sebesar Rp. 500.- dan Alhamdulillah saya diterima dan dpat menyelesaikan sekolah tepat selama 3 tahun. Tahun 1970 saya lulus SMEA tetapi tidak bisa melanjutkan karena kendala biaya. ( Bersambung )

Ditulis dan diposting oleh : Ismunadji

"Ya Allah!" #1

Ketika bumi terasa menyempit dikarenakan himpitan persoalan hidup, dan jiwa terasa tertekan oleh beban berat kehidupan yang harus Anda pikul, menyerulah:"Ya Allah!". Kuingat Engkau saat alam begitu gelap gulita, dan wajah zaman berlumuran debu hitam Kusebut nama-Mu dengan lantang disaat fajar menjelang, dan fajarpun merekah seraya menebar senyuman indah .
Continue reading »

Jangan Bersedih #2

Jangan Bersedih Atas Kegagalan, Karena anda Masih Memiliki Banyak Kenikmatan. Jangan Bersedih Bila Kebaikan Anda Tak dihargai Orang, Sebab yang Anda Cari Adalah Pahala dari Allah!.
Continue reading »